Bangun Morris Mini Klasik, Sekarang Sudah Lebih Mudah
Tangerang, KompasOtomotif - Merestorasi mobil Mini tidaklah mudah. Butuh kesabaran karena suku cadangnya cukup sulit didapatkan. Perasaan inilah yang dirasakan sesepuh Jakarta Morris Club, Amrih Sahri. Amrih mengatakan, ada beberapa bengkel di Jakarta yang biasanya dijadikan tempat berkumpulnya para pemilik mobil Pabrikan British Motor Corporation (BMC) tersebut. Salah satunya di bilangan Sultan Agung di Guntur, Jakarta Selatan. "Bengkelnya Pak Rono, anaknya namanya Santoso, itu jadi tempat kumpul, walaupun di Kramat (Jakarta Pusat), juga ada," kata Amrih di sela acara "Indonesia 1st Mini Day" yang digelar di MaxxBox Lippo Karawaci, Tangerang, Banten, Sabtu (9/12/2017).
Di bengkel itulah para pemilik mobil buatan Inggris ini bertukar informasi mengenai suku cadang dan berbagai hal lainnya. Bahkan, tukar pinjam suku cadang pun kerap dilakukan sesama pemilik mobil.
Sesepuh JMC lainnya, Sonoe Harmanto menambahkan, suku cadang mobil mungil ini didatangkan langsung dari luar negeri. Oleh karena itu, butuh waktu jika ingin melakukan perbaikan. Tetapi dari kumpul-kumpul sesama pemilik Mini, akhirnya bisa saling bertukar informasi serta tips dan trik. Beberapa bagian mobil, khsusnya pada mesin, bisa disiasati dengan menggunakan suku cadang mobil lain yang lebih umum.
Namun demikian, jika bicara soal perawatan mesin Mini Cooper, maka tidaklah sulit. Menurut Sonoe, mesin dari mobil yang ukurannya sekitar 3 meter ini cukup kuat. "Asalkan kita rajin mengontrol mobilnya. Cek remnya, mesinya, rajin ganti oli, ini aman. Ini bandel kok mesinnya," kata Sonoe. Lihat Foto Morris Mini Cooper MK 3, diproduksi sekitar Tahun 1976 hingga 1979-an. Pada mobil ini sudah menggunakan engesel kaca putar. Berbeda dengan Mini Cooper MK 1 dan MK 2 yang masih menggunakan kaca geser pada pintu kemudi dan penumpang di sebelahnya. Selain itu, pada umumnya, kapasitas mesin yang digunakan MK 3 sekitar 1.000 Cc.(Fachri Fachrudin) Sementara anggota JMC yang lebih muda, Bisma Adi mengatakan, mendapatkan spare part mobil tua tersebut tidaklah sulit. Berbagai partisi bisa dipesan melalui beberapa website dan diimpor langsung dari luar negeri. Paling lama, sepuluh hari saja barang yang dipesan itu sudah sampai di tangan. Jika ingin berbelanja secara langsung, para pemilik mobil ini bisa menyambangi penjual spare part mobil yang ada Atrium Senen, Jakarta Pusat. Bengkel-bengkel di sana menyediakan berbagai kebutuhan pemilik Morris. Baca juga : Jelajah Bali Bersama MINI Cooper S Cabrio [VIDEO] "Biasanya kami belanja di Atrium Senen, tapi barangnya itu pun dimasukan dari luar negeri juga. Jadi tidak ada produksi lokal. Kalau mau hemat, beberapa bisa substitusi, misalnya filer oli bisa menggunakan milik Kijang Inova, busi juga sama seperti mobil umumnya. Tapi tidak semua part bisa di substitusi," kata Bisma. Meskipun tidak sulit mendapatkan suku cadang mobil tua tersebut, namun harganya berbeda dengan mobil-mobil pada umunya. "Ya, sedikit lebih mahal," kata Bisma.
Honda Civic Estilo Hatchback Langka, Harganya Suka-suka Penjual
JAKARTA, KOMPAS.com – Honda Civic merupakan model yang cukup populer di Indonesia. Salah satu model yang terkenal dan sampai saat ini masih terus dicari yaitu Civic Estilo, versi 3 pintu dari model sedan Civic Genio. Estilo saat itu lahir sebagai penerus Civic Nouva yang sama-sama hatchback. Model ini mengusung mesin 1.600 cc bertenaga 120 dk dan torsi 150 Nm, serta dikawinkan dengan transmisi manual 5-percepatan. Bimo Maliki, pemilik showroom Malique Selatan Djakarta di Blok M Mall Lt. Basement, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa Estilo merupakan mobil bekas yang harganya bertahan di pasaran walaupun sudah berusia 20 tahun lebih. Baca juga: Daftar Jalan di Jakarta yang Terendam Banjir Lihat Foto Honda Civic Estilo(Otomotifnet.com/Kyn) “Estilo kalau full orisinal harganya enggak ketebak, suka-suka yang jual. Biasanya yang rapi itu sekarang mintanya sudah Rp 200 jutaan, ada yang jual Rp 300 jutaan juga bisa laku,” ujarnya kepada Kompas.com beberapa waktu lalu. “Kalau yang agak murah paling masih bahan, masih perlu diperbaiki. Itu mungkin kisaran Rp 100 jutaan, tapi unitnya memang jarang,” kata Bimo. Untuk diketahui, Estilo hadir di Indonesia sekitar tahun 1992-1995 dan dijual secara resmi oleh PT Honda Prospect Motor. Baca juga: Jakarta Banjir Lagi, Pengguna Motor Mulai Masuk Jalan Tol Lihat Foto Honda Civic Estilo(Otomotifnet.com/Kyn) Bimo mengatakan, ketika awal meluncur Estilo dibanderol lebih murah dibandingkan Genio yang versi sedan. Sebab secara segmentasi pasar, Genio diposisikan lebih tinggi ketimbang Estilo. Baca juga: Lorenzo Bicara Motor Ducati, Honda, dan Yamaha, Mana yang Paling Enak? Namun untuk saat ini, Estilo memang jadi primadona di pasar mobil bekas. Keunikannya yang hanya memiliki 3 pintu, membuat model ini terasa lebih langka dan lebih istimewa. “Genio yang masih standar saya pernah dapat beberapa kali, tapi kalau Estilo yang standar itu memang lebih susah,” ucapnya. Honda Civic Estilo dipersenjatai mesin empat silinder segaris SOHC dengan kapasitas 1.596 cc. Mesin tersebut mampu menghasilkan 165 tk, dengan torsi maksimal 1.43 Nm pada putaran 5.500 RPM. Dimensi bodi Civic Estilo juga terbilang kompak dengan panjang 4.070 mm, lebar 1.695 mm dan tinggi 1.350 mm. Lihat Foto Salah satu Honda Civic Estilo yang masih terawat dan menjadi kebanggaan pemiliknya.(ladyonwheels-alwafi auzan) Sementara jarak terendah dengan tanah 160 mm, serta jarak sumbu roda 2.570 mm. Terbilang ringkas bukan untuk ukuran hatchback. Untuk Civic Estilo yang banyak beredar di Indonesia, biasanya sudah mendapat ubahan minimal di sektor kaki-kaki dan pelek, untuk mendongkrak penampilan. Ubahan lain yang kerap dilakukan ada pada sektor mesin, guna menambah tenaga melebihi bawaan pabrik. Untuk yang berminat mencari Civic Estillo, sangat disarankan mencari yang masih memiliki komponen orisinil, seperti pelek misalnya. Cek juga kondisi kaki-kaki, dan mesin, agar tidak menimbulkan banyak masalah di kemudian hari.
Harga Honda Civic Nouva, Murah Meriah Karena Kalah Pamor dengan Civic Estilo
Jakarta – Honda Civic punya sejarah cukup panjang di Indonesia. Mobil ini termasuk sering berganti desain, antara sedan atau hatchback. Untuk yang versi hatchback, begitu populer di era 90-an dalam versi Civic EF atau yang juga disebut Civic Nouva yang kini harga Honda Civic jadul masih tinggi karena banyak peminat.
Civic Nouva adalah pendahulu dari Honda Civic Estilo, dikenal dengan kode sasis SH3. Hatchback ini ukurannya kompak dan profilnya rendah yang membuatnya langsung terkesan sporty tanpa perlu diceperin. Ciri khas desain yang mengotak namun timeless dan sedap dipandang hingga kini. Padahal, umurnya sudah lebih dari 30-tahun.
Di kalangan masyarakat, Civic Nouva juga dikenal sebagai Civic ‘Setrika’ karena bentuk kaca belakang yang besar dan rata mirip seperti punggung setrika. Meskipun sekarang ini banyak bermunculan mobil terbaru tetapi tidak sedikit orang yang masih mencari hatcback andalan Honda era 90-an ini.
Pada masa awal penjualannya, Honda Civic Nouva sangat laris di pasaran. Untuk mobil masa itu Honda Civic Nouva ini tergolong canggih dan mesin yang bertenaga lumayan besar. Oleh karena mesinnya yang hebat, akselerasi juga bisa secara cepat.
Kelebihan Honda Civic Nouva yang membuat orang tergoda ingin memiliki mobil ini yaitu Harga yang sangat terjangkau dan spesifikasi yang gahar. Banyak orang yang mencari Civic Nouva untuk direstorasi sebagai EF9 yang performanya lebih gahar dan fiturnya lebih lengkap.
Harga Honda Civic Nouva ini berkisar antara Rp 40-55 juta tergantung kondisinya. Termasuk relatif murah untuk hothatch retro yang tak lekang zaman.
Kisaran harga Honda Civic Nouva
Berdasarkan daftar listing yang tercatat di situs jual beli mobil bekas terpercaya Carmudi, harga Honda Civic Nouva paling murah yaitu 42 juta untuk tahun produksi 1990 lalu yang termahal seharga Rp 53 juta untuk keluaran tahun 1991. Dari listing yang tersedia, terlihat bila Civic Nouva ini termasuk mobil yang jarang dijual.
Sebab, di tahun produksi yang sama, Honda juga memasarkan Grand Civic di Indonesia. Versi sedan ini populasinya jauh lebih banyak dan imbasnya tentu membuat harga Honda Civic versi sedan jadi lebih murah. Untuk tahun yang sama dengan Civic Nouva, Harga Honda Civic sedan dijual seharga Rp 32 juta untuk tahun 1990 dan Rp 45 juta untuk tahun 1991.
Honda Civic Nouva, Versi Hatchback Grand Civic
Tidak salah memang bila menyebut Civic Nouva atau EF ini sebagai versi hatchback dari Civic LX atau Grand Civic. Sebab keduanya memakai mesin yang sama, yaitu D15B2. Mesin dengan konfigurasi 4 Silinder segaris, SOHC 16 Katup 1.500 cc. Tenaga yang dihasilkan 92 HP / 6.000 rpm dan torsi 119 Nm / 4.500 rpm.
Namun, kita tidak membahas versi sedan yang sudah sangat ketinggalan zaman. Untuk Civic Nouva, adalah sebagai hasil pengembangan dari varian sebelumnya yaitu Civic Wonder yang juga berwujud hatchback.
Tidak heran jika tampilan mobil ini tidak jauh berbeda dari varian sebelumnya. Ya meskipun ada beberapa bagian yang sudah mengalami perubahan, baik itu pada bagian eksterior atau pun bagian interiornya.
Berbekal mesin berkapasitas besar, maka banyak dari pengguna Civic Nouva menjadikan mobil ini sebagai bahan untuk dibangun sebagai mobil balap touring car. Bodi mobil yang mungil membuat Nouva bisa berakslerasi atau manuver yang luar biasa.
Tapi, dengan harga yang termasuk murah pastinya Carmudian harus siap menerima risiko dengan kondisi mobil yang tidak sesehat dulu. Banyak pemiliiki mobil ini yang mengeluhkan bahwa mobil ini mudah keropos, hal ini disebabkan penggunaan bahan material yang masih jauh dari standar.
Bisa dibilang, build quality saat itu tidak begitu bagus. Anda perlu melakukan pemeriksaan yang mendetail agar tidak sampai mendapat unit yang keropos bodinya. Lalu untuk pemilik, disarankan agar tetap memeriksa bagian kolong untuk menghindari terjadinya keropos bagian bodi bawah karena usia.
Penyakit Civic Nouva, Turunan dari Civic Wonder
Hadir dengan pembaharuan yang signifikan, ternyata Honda belum membenahi sektor kaki-kaki Civic Wonder menjadi lebih baik pada generasi Civic Nouva. Penyakit bawaan keduanya sama, yaitu terletak pada kaki-kaki.
Bagian yang sering bermasalah yaitu di shockbreaker, ball joint, dan bushing arm. Biasanya, muncul kebocoran shock atau keausan pada bagian kaki-kaki. Dan ketika dijalankan, muncul bunyi abnormal dari kolong sekitaran roda.
Selebihnya, perawatan Civic Nouva terbilang mudah dan spare patnya murah dan mudah dicari di bursa onderdil atau pasar mobil. Catatan hanya terdapat di spare part kaki-kaki yang cukup mahal sehingga Carmudian perlu menyiapkan uang lebih bila harus jajan bagian ini.
Kelebihan Civic Nouva
Bicara soal keunggulan Civic Nouva ini termasuk banyak, salah satunya dari desain bagian belakang yang jadi inspirasi Honda Brio. Kesan klasik dan elegan, membuat mobil ini terlihat lebih bernilai dan memiliki nilai seni yang tinggi.
Memang, gaya kotak masih tampak jelas dari Civic Nouva, dan mobil ini juga yang mengakhiri style itu. Pada generasi selanjutnya yaitu Civic Estilo desainnya membulat ala kapsul sehingga jauh lebih everlasting. Tapi, penggemar mobil lawas ala JDM atau Japan Domestic Market lebih menjatuhkan pilihan kepada Civic Nouva yang lebih mudah dioprek sesuai gaya dan selera.
Sisi positifnya, harga jual Civic Nouva tidak gaib atau sukar ditebak seperti adiknya. Sebagaimana diketahui, Pasaran harga Honda Civic Estilo mencapai sekitar Rp 70 jutaan dengan kondisi biasa dan tembus Rp 100 jutaan untuk kondisi mulus.
Civic EF Kalah Kelas dibanding Civic Estilo
Ini bagi sebagian orang dianggap sebagai kekurangan Civic EF yang desainnya masih mengotak dengan bagian belakang mirip setrika. Selain itu, kapasitas mesin Nouva juga kalah besar dan kalah bertenaga ketimbang Estilo yang muncul setelahnya.
Hal lainnya yang tidak ada pada Civic Nouva yaitu rasio gigi dekat dan kemudi yang ringan. Penyempurnaan ini baru muncul pada Civic Estilo yang membuat hatchback ini salah satu pilihan mobil yang fun to drive di era 90-an.
Anda mendapatkan feedback positif ketika memutar kemudi bermanuver di tikungan tanpa takut mobil mengalami gejala bodyroll, understeer ataupun oversteer. Ini karena Estillo sudah dibekali suspensi sport khas Honda. Tak heran bila mobil ini banyak diburu dan membuat harganya gaib di pasaran kendaraan bekas.
Kisaran Harga Kawasaki Ninja 150 RR, Paling Murah Rp 15 Jutaan
JAKARTA, KOMPAS.com - Semasa Kawasaki Ninja 150 RR masih dipasarkan di Indonesia, motor sport ini hanya berganti wujud sekali saja. Jadi, ada dua model Ninja 150 RR yang biasa disebut dengan "old" dan "new". Erky Manurung, Wakil Ketua Ninja Owner Club (NOC), mengatakan, pasaran harga bekas Ninja 150 RR old dan new masih ada di kisaran belasan juta rupiah.
Ninja 150 RR old pasarannya paling murah sekarang ada di Rp 15 jutaan. Paling murah sekian, meskipun pajak mati sampai empat tahun," ujar Erky, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Lihat Foto Kawasaki Ninja RR, salah satu varian Ninja 2-tak selain tipe SS, R, dan S, yang harus dihentikan produksinya karena regulasi emisi.(Kawasaki Motor Indonesia) Erky menambahkan, warna juga berpengaruh terhadap harganya. Untuk kasta tertinggi, saat ini Ninja 150 RR yang warna silver harganya paling tinggi. Walaupun, yang pertama kali keluar di Indonesia itu warna hijau. "Itu harga tangki bahan bakarnya saja bisa mencapai Rp 3,8 juta. Sedangkan tangki bahan bakar dengan warna lainnya, paling hanya sekitar Rp 1 jutaan," kata pria yang juga menjadi mekanik di bengkelnya ERK Speed di bilangan Matraman, Jakarta Timur. Baca juga: Ninja 2-Tak Bekas, Motor Sport Paling Dicari Sedangkan untuk Ninja 150 RR new, Erky mengatakan, paling murah sekitar Rp 19 jutaan sampai Rp 20 jutaan. "Kalau yang tidak ingin capek merestorasinya, biasanya cari Ninja 150 RR yang new. Banyak orang tidak suka dengan Ninja 150 RR new karena desain bodi belakangnya," ujar Erky. Dari data yang dikumpulkan tim Kompas.com dari berbagai situs jual beli online, harga Ninja 150 RR termurah saat ini ada di kisaran Rp 18 jutaan untuk yang old dan Rp 20 jutaan hingga Rp 23 jutaan untuk yang new.
Diburu Kolektor, Honda NSR 250R Edisi Rothmans Dijual Rp 275 Juta
TEMPO.CO, Jakarta - Marketplace khusus motor 2 tak Indonesia, 2T Corner menawarkan Honda NSR 250 SP seri MC28 edisi Rothmans. Motor sport 2 tak yang didesain untuk kebutuhan street legal ini dijual seharga Rp 275 jutaan.
NSR 250 SP MC28 sendiri diketahui sebagai salah satu motor sport langka yang menjadi incaran para kolektor. Replika motoGP pada jamannya ini sudah dibekali teknologi canggih seperti Smard Card atau kartu memori yang berfungsi mengaktifkan mesin.
"Motor ini langka hanya sekitar 20 unit di Indonesia. Kebanyakan buat koleksi. Motor ini juga banyak yang nanya, tapi belum ada deal. Kebanyakan mereka masih khawatir soal pengiriman karena sekarang lagi masa pandemi atau PSBB."ujar Admin 2T Corner, Richard William saat dihubungi Tempo, Rabu, 6 Mei 2020.
Speedometer Honda NSR250R dengan logo Rothmans sebagai penanda keaslian motor edisi terbatas. Sumber: 2t Corner
Soal harga yang bisa dipakai membeli Toyota Rush baru itu, Richard mengaku bahwa harga Rp 270-280 jutaan sudah menjadi patokan NSR 250R. Alasannya, motor masih dalam mulus dengan tingkat orisinalitas yang bisa dipertanggung-jawabkan.
"Soal harga, tergantung ownernya juga. Tapi kalau Honda NSR 250 yang paling murah itu sudah di atas Rp 150 jutaan, itu pun masih perlu direstorasi,"ujarnya.
Richard menambahkan 2T Corner saat ini menyediakan tiga unit NSR 250R. Dua diantaranya adalah tipe MC28 dengan produksi 1993 dan 1995 dan satunya tipe MC16. Untuk MC16, kami belum bisa rilis harganya, tapi kalau ada yang berminat bisa langsung menghubungi kami,"ujarnya.
Yamaha RZR, Pionir Motor Full Fairing Pabrikan Garpu Tala
JAKARTA, KOMPAS.com - Redaksi kembali menghadirkan foto sepeda motor spesial dalam bentuk ilustrasi karya Oni Faristiwa. Liputan karya seni ini hadir reguler setiap Jumat, di kanal otomotif Kompas.com. Kali ini, pada pekan ke-44 awak redaksi menghadirkan ilustrasi motor legendaris Yamaha RZR. Salah satu pionir motor sport fairing Yamaha di Indonesia dan merupakan saudara kandung dari RX-Z yang merupakan versi naked.
Bicara RZR maka memang balik lagi pada RX-Z. Seperti pernah dibahas pada tulisan lalu, RX-Z hadir lahir dari pengembangan Yamaha RD125. Generasi pertama tercetus pada 1985 dan dijual di Malaysia dan Singapura. Lihat Foto Yamaha RZR(Foto: Maleha/NaikMotor.com) Setelah masuk ke Indonesia, Yamaha melebarkan pasar dengan menawarkan versi full fairing. Perbedaan antara Yamaha RZR dan RX-Z hanya tampilan depan full fairing, sedangkan RX-Z telanjang dengan batok lampu dan under cowl. Saat pertama meluncur, RZR mampu mencuri perhatian dan membuat persaingan dengan Suzuki RGR150. Sebab generasi pertama RGR150 di Indonesia sebetulnya masih semi full fairing dengan batok lampu dan pelindung bawah mesin. Selain fairing semuanya serupa, mesin RZR dan RX-Z berbagi basis yang sama. Di atas kertas jantung 135cc 2-tak mampu menghasilkan 15 kW pada 8.500 rpm dan torsi 18,1 Nm pada 7.500 rpm. Berkat karakter mesin over bore, dengan bore & stroke yakni 56 mm & 54mm dan dibekali transmisi enam percepatan, Yamaha RZR lebih enak digeber diputaran atas untuk trek-trek panjang. Baca juga: Bengkel Resmi Yamaha Terbesar di Indonesia Resmi Dibuka Lihat Foto Yamaha RZR() Sayangnya dengan alasan itu juga kerap disebut salah satu mengapa masyarakat Indonesia jadi lebih suka RX-King. Transmisi 5-percepatan disebut lebih ''ngejambak'' dan enak buat tarik-tarikan pendek. Yamaha RZR setop produksi pada 1998. Alasannya waktu itu tak jauh beda dengan RX-Z yakni karena kalah bersaing dengan sepupunya Yamaha RX-King yang masih mashyur dengan julukan ''motor jambret.'' Beberapa kalangan berpendapat RX-Z dan RZR merupakan produk gagal. Namun hal itu bukan karena gagal secara produk melainkan di pemasaran, sebab saat itu harga motor fairing termasuk mahal. Spesifikasi Yamaha RZR: Tipe Mesin: 2-stroke, air-cooled, forward-inclined single cylinder Silinder: 133cc Diameter x Langkah: 56 x 54 mm Rasio Kompresi: 7 : 1 Daya Maksimum: 15 kW (20 PS) @ 8.500 rpm Torsi Maksimum: 18,1 Nm @ 7.500 rpm Maksimum: 150 km per jam Transmisi: 6-speed return Tipe Rangka: Underbone Steel Tube Suspensi Depan: Teleskopik Suspensi Belakang: Dual Shock Rem Depan: Disc Brake, Single Piston Rem Belakang: Drum Brake Berat Kosong: 106 kg Kapasitas Tangki Bahan Bakar: 13 liter
Yamaha RX-King mungkin tidak ada artinya untuk remaja yang tahun ini genap 17 tahun. Namun bagi mereka yang sudah tumbuh kesukaan pada motor pada 1980-2000an, sosok kuda besi ini pasti lekat di ingatan.
Suara knalpot yang garing nan berisik. Akselerasi yang sekejap. Hingga asap putih yang mengebul dari buritan menjadi ciri khasnya. Hal-hal itulah yang membuat RX-King melekat di benak banyak penyuka motor. Satu lagi, maling gemar sekali menjadikan ini transportasi utamanya sampai-sampai julukan motor maling muncul.
Baru-baru ini salah satu pejabat Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), M. Abidin, memposting di laman sosial medianya terkait RX-King. Respons positif pun bermunculan di sana. Satu persatu pemilik, pengguna, pernah-menggunakan, hingga yang masih mengidamkan berkomentar. Tentu ini membuat kami terinspirasi merangkum kisah sang raja jalanan.
Dimulai oleh RX-K
Ya, masih sedikit yang tahu, RX-King memulai kiprahnya di Indonesia lewat RX-K. Diimpor langsung dari Jepang pada 1980 sebagai versi lebih bertenaga dari RX 100 dan RX 125 di era 1970an. Mesin 135 cc (tepatnya 132 cc) yang digunakan RX-K membuatnya cukup dilirik. Tapi tak banyak, apalagi saat itu, ia masih berstatus motor CBU (completely built up). Nasibnya pun hanya bertahan kurang lebih tiga tahun.
Perjalanan RX-King
Selama peredaran RX-K, 3 konseptor asal Jepang; Nobuo Aoshima, Chikao Kimata dan Motoaki Hyodo mendapat masukan yang cukup mendasar. Masyarakat Indonesia ingin motor yang gagah, tidak boros bahan bakar dan powerful di putaran rendah.
Berbasis masukan itu, RX-King dirilis di 1983 dengan teknologi Yamaha Energy Induction System (YEIS). Tampang yang lebih gagah pun diwujudkan dengan desain yang lebih modern. Tangki bersudut, dengan lampu kotak, serta stang tinggi berjuluk kobra lantaran bentuknya.
Mesin 135 cc dengan konfigurasi 2 langkah (2-tak) dijadikan andalan. Meski saat itu, kompetitor, Honda menjagokan GL-Series dengan dapur pacu 4-tak, Yamaha sukses menjadikan RX-King berkarakter. Proses penciptaan tenaga yang lebih cepat karena hanya membutuhkan 2 langkah menjadikan grafik tenaganya mudah memuncak.
Dapur pacu itu tetap bertahan, karakter knalpot bising dan berasap hingga pergantian millennium. Isu emisi dan regulasi pada 2006 membuat Yamaha merilis New RX-King. Mesinnya tetap sama, hanya saja proses pengolahan gas buang diperbaiki. Knalpotnya sudah diberi catalytic converter untuk mereduksi emisi.
Asapnya pun di era itu sudah berkurang. Tak sedikit khalayak yang menyindirnya sebagai RX-King 4 tak. Apalagi fisiknya juga berbeda. Lampu bulat menjadi rumah pencahayaan utama, menggantikan lampu kotak yang menemani lebih dari 20 tahun.
Sayang nasib RX-King harus berakhir di 2009. Tren konsumen yang lebih memilih motor skutik, sedikit banyak berpengaruh pada hal ini. Yamaha pun harus berpikir strategis dan memadamkan kiprah RX-King.
Kini RX-King justru jadi buruan fans. Motor dalam kondisi tak terawat dan sekadar lengkap surat-surat saja sudah bernilai. Sedangkan versi orisinil yang masih mengenakan seluruh peranti asli, diburu kolektor. Harganya? Sungguh gelap. Nilai intrinsik rasanya tak bisa membayar nilai sentimental yang kadung merasuk para pemiliknya.
Suksesor, Yamaha Scorpio Z
Sebenarnya tak ada hubungan antara Scorpio Z dan RX-King. Saat King memasuki akhir masanya, pabrikan lambang garputala sudah mulai merilis motor sport tanpa fairing dengan mesin 4-tak. Tujuan hadirnya Scorpio Z lebih tepat untuk menjegal Honda Tiger. Namun, DNA ‘motor laki’ saat itu tersisa hanya di Scorpio saja.
Dari Scorpio lah, DNA motor laki bergaya turing berlanjut. Kini Yamaha memiliki motor naked bike dalam model Vixion, Byson, dan Xabre. Semua motor laki itu masih mengaliri sedikit DNA pejantan dari RX-King. (Van/Odi)